Inflasi Indonesia Diangka 2,56 Persen
Kominfo- Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Kaur kembali mengikuti Rapat Koordinasi mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia secara virtual dari ruang staf ahli Setda kaur, Senin (13/11/2023), Rakor di pimpin Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta,
Dilansir dari berbagai sumber, Mendagri dalam paparannya menyampaikan mengapresiasi capaian inflasi pada Oktober 2023 yang relatif terkendali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat inflasi pada Oktober 2023 berada di angka 2,56 persen secara year on year (yoy). Capaian inflasi tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat 141 dari 186 negara di dunia. Capaian itu juga menempatkan Indonesia pada peringkat ke-19 terendah dari 24 negara G20 dengan kualifikasi inflasi terkendali. Kemudian di tingkat Asean, Indonesia tercatat berada pada posisi nomor 7 inflasi terendah dari 11 negara.
“Meskipun angka inflasi relatif stabil, namun saya meminta kepala daerah tidak terlena. Saya mencermati 10 provinsi di Indonesia dengan tingkat inflasi tertinggi. Mereka di antaranya Provinsi Maluku Utara 4,31 persen, Papua Barat 3,86 persen, Bangka Belitung 3,80 persen, Maluku 3,62 persen, Yogyakarta 3,44 persen, Jawa Timur 3,25 persen, Sulawesi Tenggara 3,14 persen, Kalimantan Timur 3,09 persen, Lampung 3,06 persen, dan Sulawesi Barat 2,92 persen” Ungkap Mendagri
Selain itu,Mendagri juga menyoroti 10 kabupaten dengan tingkat inflasi tertinggi. Daerah itu di antaranya Kabupaten Belitung 5,43 persen, Sumenep 5,29 persen, Merauke 4,89 persen, Manokwari 4,25 persen, Banggai 4,25 persen, Kotabaru 4,12 persen, Sikka 4,07 persen, Sumba Timur 3,92 persen, Buleleng 3,65 persen, dan Mimika 3,34 persen.
Dalam kesempatan tersebut, Mendagri juga mengungkapkan situasi global yang belum stabil. Hal ini disebabkan adanya perang di beberapa negara. Kondisi ini juga semakin diperburuk dengan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang membuat gejolak di pasar keuangan.
“Melihat situasi geopolitik tersebut, saya pun meminta kepala daerah untuk serius menangani inflasi di daerah masing-masing sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo” tukas mendagri
Sementara itu, Menurut Plt. Kepala Badan Pusat Statistik RI Amalia Adininggar Widyasanti, komoditas utama penyebab inflasi bulan Oktober 2023 (m-to-m) relatif lebih tinggi bila dibandingkan Oktober dua tahun terakhir terjadi pada komoditas beras, cabe rawit, cabe merah, serta gula pasir.
Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa beras menjadi penyumbang andil inflasi terbesar, baik secara bulanan, tahunan maupun tahun kalender, dimana harga beras pada minggu pertama November berangsur-angsur menurun, jika dibandingkan minggu sebelumnya.
“Beras masih tinggi levelnya dan belum menunjukkan penurunan, tetapi sudah menunjukkan harga yang mendatar, tidak ada tanda-tanda kenaikan tetapi harga flat di level yang masih tinggi” sebutnya.
“Untuk cabe merah memang masih terdapat tren peningkatan harga, termasuk cabe rawit tren peningkatan harganya relatif tinggi. Sedangkan gula pasir, inflasi m-to-m mencapai 1,59% dan kalau kita lihat, jumlah atau level harga gula pasir ini masih dalam tren yang meningkat” kata Amalia.
Selanjutnya ia mengungkapkan, beberapa komoditas menjadi penyumbang deflasi yaitu telur ayam ras, ikan, tomat, bawang merah, minyak goreng, bang putih mengalami penurunan harga secara m-to-m.
“Deflasi sejumlah komoditas pangan, deflasi terdalam ditunjukkan di Kota Singkawang deflasi terbesar -12,63%, Manokwari -7,40% dan Bandung 7,02% pada telur ayam ras. Untuk bawang merah kota yang berhasil menurunkan inflasi dengan sangat cepat adalah Bima -19,56%, Palangka Raya -19,48% dan Waingapu -15,16%” ungkapnya.
“Sedangkan untuk bawang putih, kota yang berhasil menurunkan tingkat harga terdalam kota Parepare, Medan dan Pekanbaru” sambungnya.
Secara nasional terdapat beberapa komoditas yang mempengaruhi perubahan IPH 2% poin dari minggu sebelumnya terjadi di wilayah pulau Jawa. Sampai dengan minggu kedua bulan November 2023 adalah cabe merah, cabe rawit, gula pasir dan beras. (top)
3.jpg)



1.png)

Facebook Comments